Kamis, 27 September 2012

UNDERGROUND


UNDERGROUND.. kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar seiring berkembangnya belantika musik Indonesia. “Underground” sering didefinisikan orang-orang sebagai musik bawah tanah atau musik-musik keras, ugal-ugalan, punk, kasar, tidak senonoh, dan sebagainya.

Hanya karena saya memakai kaos sebuah band metal luar favorit saya, atau ketika saya  sedang mendengarkan lagu keras ada orang nyeletuk ,”wuih.. anak underground”. Dan yang sering saya lihat di Studio musik terdapat tulisan “NO UNDERGROUND” karena takut alat musik mereka rusak.  Semudah itukah  kata underground didefinisikan? Coba deh tanyakan kepada pengelola studio itu, “apa sih underground itu?”apa mereka paham definisinya?  Atau mereka hanya orang yang kurang pengetahuan dan menggunakan kata-kata Underground agar kelihatan gaul?

Orang-orang pada umumnya mengidentikkan “underground” sebagai musik-musik seperti blackmetal, punk, hardcore, dan musik-musik keras lainnya. Apa sih konsep dasar underground sebenarnya?

Underground sendiri itu tidak hanya sekedar tentang musik. Pada dasarnya “underground” adalah sebuah pergerakan/movement yang tidak terikat pada suatu koorperasi yang sifatnya mengikat. Pergerakan underground ini bersifat counterculture (sangat berbeda dengan mainstream yang ada atau bisa disebut juga antitetis).

Lalu dari mana kata underground itu berasal? Kata underground yang dalam arti katanya adalah “bawah tanah” berawal  pada tahun 1920 ada sekelompok seniman Prancis dalam bidang seni rupa yang mengadakan pamerannya di dalam subway dan basement yang terletak di bawah tanah. Hal ini dilakukan Karena masyarakat dan seniman Prancis lainnya menganggap bahwa hasil karya mereka itu aneh, tidak sesuai dengan mainstream yang ada. Sehingga hasil karya mereka bisa jadi tidak dianggap atau bahkan dilecehkan jika dipublikasikan untuk umum. Maka dari itu mereka mengadakan pameran di ruang bawah tanah dengan maksud agar hanya orang-orang tertentu dan beridealisme tinggi yang menghadiri pameran tersebut.

Dalam dunia musik sendiri, Underground pertama kali diperkenalkan oleh scene pshycedelic sekitar tahun 1960-an, dan dilanjutkan oleh band-band lain seperti The Grateful Dead, Velvet Underground, MCS, Frank Zappa, bahkan The Beatles pernah dianggap sebagai band pemrakarsa scene “underground”.

Band yang dapat dikategorikan sebagai band underground adalah band yang berpegang pada kode etik D.I.Y (Do It Yourself). Mereka merekam dan memproduksi karya mereka dengan usaha dan kerja keras mereka sendiri tanpa terikat dengan label-label besar (major label), mereka mengadakan pertunjukan di tempat-tempat yang tidak representatif.

Dalam Counterpunch Magazine, dikatakan bahwa “Underground music is free media, because by working independently, you can say anything in your music and be free of corporate cencorship”.

Jadi underground tidak hanya sekedar tentang musik yang keras dan kasar, dan yang harus digaris bawahi Underground itu bukan hanya tentang musik. Karya-karya lainpun juga dapat dikategorikan sebagai underground seperti film, seni rupa, seni tari, dan karya sastra lainnya selama karya tidak terikat, bebas berekspresi, dan berpegang pada etos D.I.Y.

Kenapa saya membahas ini? Melihat fenomena yang ada sekarang begitu banyaknya yang berkoar-koar tentang underground, apalagi anak muda jaman sekarang yang dengan seenaknya menklaim mereka itu anak underground tanpa ada wawasan dan pengetahuan lebih jauh tentang favorit mereka itu.

Contoh yang lagi ngetrend adalah musik, banyak yang mengaku mereka menyukai musik aliran ini, aliran itu, saling melecehkan aliran ini itu, mengkotak-kotakkan aliran band, membentuk suatu komunitas anti band ini band itu. Saya yakin hanya sedikit yang tahu tentang sejarah asal muasal musik yang mereka sukai itu, atau tentang perjalanan band, dan sejarah aliran yang dianut.

Memiliki wawasan dan pengetahuan yang mendalam itu besar manfaatnya, salah satunya adalah kita akan mempunyai BASIC dan ORIGINALITAS. Bukan hanya menjadikan trend musik untuk sekedar LIFE STYLE seperti fenomena yang terjadi sekarang.

Kenapa kita tidak mencoba menjadi konsumen musik yang berdemokrasi? Kenapa musik juga harus didiskriminasi? Coba deh jangan mudah terprovokasi tanpa tahu jelas asal usulnya.

Sekedar masukan buat pemilik studio yang memajang tulisan “No Underground”, jika tidak berkenan studionya dipakai oleh band-band yang beraliran keras cukup pajang “No aliran keras” seperti itu kan lebih jelas. Jika anda menggunakan kata underground berarti anda melarang band-band Indie untuk mengekspresikan bakatnya.Atau buat yang sering ngecap orang “kamu nak underground ya” saat melihat orang berpakaian hitam-hitam, coba deh gunakan kata yang lebih tepat. Apa underground itu harus identik dengan hitam? Mari berpikir cerdas. :)

 dari berbagai sumber.








ALONE AT LAST*


Lama vakum gak buka blog, maaf.. maafin Blogger murtad ini. Gue akui sekarang sok sibuk. Ini yang bikin Gue agak kalang kabut sama jadwal Gue sendiri. Oke.. cukup dulu curhanya. Kali ini Gue mau sedikit mengulas tentang salah satu band favorit Gue ALONE AT LAST*, Let’s check it out Guys!

Alone at Last* dengan tanda bintang (*) pada akhir katanya bermakna visi mereka untuk menjadi bintang. Bintang yang selalu mencerahkan kehidupan mereka melalui dunia musik, baik dari segi lirik maupun arrangement musiknya, pengalaman, atau inspirasi dari musisi lain.

Berawal dari pertemanan Bahe (Gitar) dan Athink (Drum) yang ingin membentuk sebuah Grup band yang mampu mewakili arus emosi dan frustasi pribadinya lewat musik, mereka memulai sejarah awal berdirinya ALONE AT LAST* (2002), lalu ditambah dengan hadirnya Indra (Back Vocal, Gitar) dan Abok (Back Vocal, Bass). Karena AAL* membutuhkan vokal yang lebih ekspresif dan cocok dengan jenis musik yang terhitung progresif saat itu, Bahe merekomendasikan Yas untuk bergabung di AAL*.Bahe sendiri  saat itu fotografer di Ripple Magazine, sebuah majalah Indie popular di kota Bandung yang menyuarakan karya-karya musik Indie Indonesia khususnya di Bandung.

Dari majalah inilah, AAL mulai berkembang dan dipromosikan ke massa musik underground/indie di Bandung dan Jakarta. Sebagaimana Athink, Bahe yang mempunyai network musik yang cukup luas ini memegang peranan penting dalam awal pembentukan band yang sering dicap “EMO”

Dengan formasi inilah AAL* mulai menyemaraki event-event. Selama hampir setahun dalam tahun 2002 mereka hanya manggung 2 kali, pertama di tempat skate anak-anak Bandung Bouqiet CafĂ© dalam event “FREE AT LAST” dan yang kedua di Kuningan Jakarta.

Apresiasi masa dengan lagu-lagu AAL* sudah cukup baik, lagu yang dibawakan saat itu juga banyak. Tapi yang sempat dirilis oleh Ripple Magazine dan Riotic Compilation hanya ada dua ”No More Worries” dan “No Feeling”. Yang kebetulan posisi vokal masih dipegang oleh Indra. Demo 2 lagu ini dipromosikan dalam bentuk kaset tape di Ripple Magazine, beserta page interview AAL* di dalamnya.

 
Sebuah perusahaan rekaman nasional menawarkan untuk membuat full album setelah mereka mendengarkan lagu-lagu AAL* dari Ripple. Mereka meminta 5 smple lagu baru sebelum mereka benar-benar akan menawarkan kontrak serius.

Dalam proses rekaman demo, Indra dan Bahe ragu jika perusahaan rekaman tersebut benar-benar menginginkan AAL* untuk rilis album, Indra khaatir bahwa CD demo AAL* tertukar dengan band lain yang bernama CUPUMANIK yang saat itu juga sedang promosi. Setelah mengkonfirmasi ke Ripple dan pihak perusahaan rekaman, ternyata dugaan Indra benar. Wakil dari perusahaan rekaman itu mendengarkan CD dari CUPUMANIK, bukan AAL*.

Kecewa dengan kenyataan pahit ini, langkah AAL* tidak berhenti di tengah jalan. Rekaman tetap diteruskan. Mereka berpikir “WHY WE SHOULD DEPENDS OUR DESTINY TO MAJOR LABELS? WE CAN BE PRODUCTIVE WITHOUT THEM”
Dari sinilah semangat AAL* bangkit. Indie yang bermakna “Independent” pada dasarnya mempunyai prinsip sama dengan “Underground” yaitu D.I.Y (Do it Yourself).

Dengan bantuan pemilik studio, Chaerul (Gitaris Noin Bullet), sound engineer Yayat (Soundman BURGERKILL), dan Yoni (ex-vokal turtle junior) akhirnya AAL* meluncurkan album EP pertamanya yang berjudul “Sendiri Vs Dunia” yang resmi dirilis tahun 2004. dengan hits single pertamanya yang berjudul “Amarah, Senyum, dan Air Mata”. Videoklipnya dibuat oleh Speed-o Film, yang disutradarai oleh Eric. Pembuatan videoklip ini juga dibantu oleh teman-teman dari  SENDAL JEPIT (Band punk asal Bandung) dan BOYS R TOYS (Band punk cewek). Video lagu ini dicatat sebagai videoklip yang paling banyak didownload di Youtube Indonesia menurut Koran kompas.

Beberapa bulan sebelum rekaman,tepatnya pada tahun 2003 Abok mengundurkan diri dari AAL* dengan alasan ingin lebih focus pada pekerjaannya sejak ia diterima sebagai Pegawai Negeri sipil. Datanglah Ubey disaat yang tepat. Tak lama kemudian seperti Yas, Ubey menjadi perhatian utama audience karena aksi panggungnya yang dibilang “cadas!!”.

Sejauh perjalanan band ini teman-teman dari SENDAL JEPIT dan ROCKET ROCKERS banyak mendukung mulai dari awal terbentunya band ini. Begitu juga dengan band-band lain seperti JOLLY JUMPER, DISCONNECTED, BESIDE, NUDIST ISLAND, BUCKSKIN BUGGLE, dan banyak lagi.

Tanpa diduga album SENDIRI VS DUNIA terjual hingga 1500 kopi. Sejak album dan video pertama dipublikasikan ke media termasuk ke radio Paramuda, Ardan, Stasiun TV local STV dan MTV, AAL* mulai menjadi perhatian dari yang ngefans maupun yang membencinya di tengah suara parau “ANTI-EMO” yang tidak menyukai musik-musik yang dibawakan AAL. Meskipun AAL sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai band Emo.

Tahun 2006 Indra resmi mengundurkan diri dikarenakan urusan keluarga dan rencananya untuk study ke Australia. Setelah melakukan audisi, akhirnya posisi Indra diisi oleh Ucay hingga sekarang. Dengan formasi baru inilah Athink, Ubey, Yas, Bahe, dan Ucay, AAL meluncurkan album kedua yang berjudul JIWA yang dirilis pada tahun 2008 dengan produser yang sama seperti album sebelumnya. Di album ini AAL mulai meakukan sedikit eksperimen dalam bermusik. Hits barunya berjudul “Muak Untuk Memuja”, tahun 2008 dirilis video klipnya yang disutradarai oleh Yas sendiri.


Ada juga hits alone at last yang berjudul “Jiwa”, “Taman”, “Gadis Kecil Berbisa”, dan “Dear Love” yang sering masuk chart atas radio-radio lokal. Tidak hanya di Bandung dan Jakarta, kali ini masa Alone at Las merambah hingga Medan, Riau, Palembang, Garut, Tangerang, Cirebon, Tasikmalaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bali, Pontianak, Makassar, dan Papua. Sehingga jadwal Alone at Last juga dipenuhi oleh jadwal tour luar kota.

Komunitas penggemar AAL yang dinamakan STAND ALONE CREW (SAC) merupakan tempat untuk berbagi pengalaman, diskusi, dan ikut mengembangkan pergerakan musik Indie/Underground di Bandung. SAC hingga sekarang masih aktif di bawah management baru yang dikepalai oleh gitarisnya -Indra, bersama Davit, dan Rizzy.

Bahe keluar dari AAL pada tahun 2007, dan posisi gitar hanya diisi oleh Ucay. Untuk mengisi kekosongan,ditariklah seorang additional player yang sebelumnya sudah menjadi crew AAL bernama Davit (Beauty Forgotten). Pada pertengahan tahun 2008, Indra kembali pulang ke Indonesia. Dan secara resmi menyatakan bergabung kembali dengan AAL. Hingga sekarang formasi AAL antara lain : Athink, Ubey, Yes, Ucay, Indra. Sedangkan posisi manager dipegang oleh Kikio Nugraha.

AAL tidak mempedulikan label Indie atau Major yang sering diributkan oleh musisi atau pemerhati musik yang idealis.Bagi mereka mengembangkan karir musik bias dimana saja. Realita di masa kini, batas pemisah antara Indie dan Major pun sudah semakin tipis. Beberapa perusahaan label musikpun sudah mulai melirik band-band Indie, seperti ROCKET ROCKERS dan BURGERKILL yang pernah dinaungi oleh SONY.

AAL mendukung semua band-band lokal Indonesia yang selalu bergerak dalam kerangka progresivitas musik, terutama dalam mempertahankan keunikan musik belantika Indonesia, yang merupakan persilangan dari subkultural timur dan barat, tradisional dan modern, belantika dan mancanegara. Melawan semua diferensi social dalam komunitas Indie/Underground. Hubungan yang baik antara para musisi dengan media massa, baik cetak maupun elektronik memegang kendali penting dalam menentukan kelangsungan kreativitas musikalitas musik-musik Indie seperti yang diusung oleh AAL.

Itu tadi sedikit ulasan tentang sejarah Alone at Last, yang jujur menurut Gue lagu-lagunya pas banget buat mewakili emosi jiwa. Dan gak pernah ada bosennya denger lagu mereka. Jadi buat yang belum kenal band satu ini, silahkan coba download lagunya and enjoy it ! :D

 

Sumber : Indra’s AAL Blog.